Pengalaman Konsultasi Psikolog & Psikiater di Aplikasi Halodoc

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Halo, apa kabar? Semoga selalu dalam kondisi sehat, ya!

Sekarang ini mulai banyak bermunculan layanan konsultasi terkait kesehatan mental secara online, apalagi ditambah keadaan pandemi yang membatasi ruang gerak. Sehingga, banyak keluhan muncul mulai dari kecemasan akan ketidakpastian, rasa marah dan kecewa, serta kesedihan yang berulang. Sebelum pandemi sendiri, sebetulnya kesadaran akan kesehatan mental sudah meningkat dan edukasi sudah banyak muncul juga di media sosial. Mulai dari tenaga profesional seperti psikiater dan psikolog maupun akun media sosial resmi yang memang membahas tentang kesehatan mental.

konsultasi psikolog di halodoc
pict: HalodocID, twitter

Kemudian pada Juni 2020 lalu, Halodoc meluncurkan kanal baru untuk konsultasi terkait kesehatan jiwa atau kesehatan mental dengan kedokteran jiwa (psikiater) dan psikolog klinis. Sebetulnya sudah tersedia sih dokter spesialis kesehatan jiwa dan psikolog sejak 2018, namun untuk kanal terpisah baru 2020 kemarin. Well, aplikasi serupa yang lain banyak sih namun saya belum pernah mencoba, baru Halodoc ini yang memang sudah saya gunakan sejak 2019.  Ah iya, ini bukan postingan berbayar ya jadi murni berbagi pengalaman saja. 

Menurut saya, ada plus minusnya lah berkonsultasi ke psikolog maupun ke psikiater di Halodoc ini. Misalnya:

Kelebihan Konsultasi di Halodoc

Murah dan terjangkau

Yes, tentu saja hanya dimulai dari sekitar 30-50rb saja untuk konsultasi selama 45 menit melalui chat. Namun ada juga sih yang harganya mencapai 100rb tapi jarang. Harga segitu lumayan lah ya bagi yang ingin berkonsultasi dengan profesional namun takut atau parno ke rumah sakit, jadi bisa screening tipis-tipis dahulu. Bahkan kalau baru pertama kali daftar, biasanya gratis. Sebenarnya kalau untuk konsultasi psikolog online sekarang banyak juga sih yang ratenya 150-200rban, namun kalau untuk harga segitu menurut saya mending konsultasi langsung tatap muka gitu.

- Mudah Digunakan. 

Selama saya menggunakan aplikasi ini sih mudah-mudah saja dan responsif, nggak ngelag dan tata cara buat janji dengan psikolog juga mudah.

- Nyaman. 

Ini kalau saya secara personal sih yang kadang lebih detail dari pada hanya berbicara. Terus kan nggak ketemu juga atau sama-sama asing jadi mau curhat apa aja nggak perlu malu. Hihi.

- Informasi Lengkap. 

Pilihan untuk nanti mau konsultasi ke psikolog atau psikiater juga tersedia detail berapa lama psikolog/psikiater praktik, nomor STR, dan di mana juga mereka praktik. Biasanya ada juga presentase dari penilaian pengguna yang bisa dijadikan rekomendasi.

- Adanya Catatan/Notes Konsultasi

Nggak usah khawatir lupa mengenai apa saja yang dikonsultasikan dan hasilnya karena chat akan tersimpan di riwayat. Nah selalu ada catatan tambahan juga sehabis konsultasi, ini berguna misalnya untuk mau menerapkan saran atau catatan untuk dikonsultasikan langsung ke psikolog/psikiater.

konsultasi ke psikolog

Kekurangan Konsultasi di Halodoc

Nggak sedikit yang bilang bahwa konsultasi di Halodoc nggak ngefek apa-apa, kurang memuaskan, atau lebih baik konsultasi langsung saja dengan dokter. Well, memang sih pengalaman personal pasti beda-beda, mari coba breakdown satu-satu.

- Waktu Terbatas. 

Meskipun diberi waktu maksimal 45 menit, biasanya ada jeda cukup lama entah balasan dari dokter/psikolognya lama. Mungkin ini sering terjadi kalau yang gratis dan umum sih, tapi saya pernah konsultasi dengan umum dan gratis tetap responsif dan memberikan saran vitamin kala itu yang kebetulan sedang urgent. 

- Cocok-Cocokkan. 

Ya, sama seperti konsultasi langsung kalau kita juga cocok-cocokkan dengan psikolog atau psikiater di Halodoc. Saya juga pernah mengalami konsul dengan yang jawabannya singkat-singkat saja tanpa penjelasan atau balasnya lama, namun karena nggak mau rugi tetep saya sih yang aktif bertanya sampai waktu habis hihi.

- Tujuan. 

Mungkin kekecewaan timbul karena hasil dari konsultasi berbeda dari apa yang diharapkan. Ini wajar banget yah karena permasalahan pada kesehatan mental atau jiwa itu perlu berulang kali konsultasi karena banyak lapisan yang digali. Dengan waktu yang seterbatas itu apalagi via chat, kurang banget pasti kalau ingin mendapatkan yang detail dan memuaskan. 

- Jawaban Bot/Template. 

Untuk beberapa kali, jawaban memang terlihat seperti template yang biasanya saya baca di Google terkait dengan gejala atau penjelasan. Kalau kayagitu gimana? Ya tinggal jelasin saja bagaimana yang dirasakan atau bagi yang sudah pernah ke psikolog/psikiater langsung jelaskan saja bahwa sudah teredukasi, tinggal tanya pada hal yang pentingnya.

Yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Konsultasi ke Psikolog/Psikiater di Halodoc

konsultasi masalah kesehatan jiwa halodoc
pict: liputan6.com

Biar tepat guna dan tujuan nih, ciah. Sebaiknya memang ada perlu yang diperhatikan sebelum konusltasi ke psikolog atau psikiater di Halodoc. Kalau saya biasanya begini:

1. Menulis Terlebih Dahulu Chat Yang Akan Dikirim

Jadi hemat waktu ya, nggak perlu ngetik ulang dan juga pertanyaan nggak berulang. Selain itu jadi nggak ketinggalan apa saja yang ingin dikonsultasikan, sayang banget kan kalau udah kelar konsultasi malah tiba-tiba baru keinget. Hal ini memudahkan juga karena nanti tinggal copy paste saja.

2. Menentukan Tujuan Yang Ingin Dicapai/Tahu Kondisi Kita

Well, sebenernya kalau baru pertama kali konsultasi terkait kesehatan jiwa memang akan timbul kebingungan bagaimana harus memulai, apalagi yang belum terbiasa menyadari emosi dalam diri. Nah biasanya nih pasti cerita masalah pencetusnya terlebih dahulu, yang mengakibatkan timbulnya perasaan-perasaan nggak nyaman. 

Nah kalau sudah seperti itu, minimal jadi tahu tujuan konsultasi itu apa. Misalnya apakah benar atau tidaknya, mencari bagaimana sebaiknya, dan lain-lain. Kalau ke psikolog biasanya akan diberikan saran-saran untuk mengurangi perasaan negatif yang dirasakan. Karena waktunya terbatas ya, usahakan jangan habis karena chat terlalu panjang lebar mengenai rentetan penyebab, namun mana saja yang menimbulkan permasalahan secara besar.

3. Kalau Mendadak, Bagaimana?

Nomor dua bisa diskip kalau misal ingin konsultasi mendadak, kan biasanya ada psikolog yang aktif di hari dan jam tertentu–ini misal kalau ingin janjian terlebih dahulu dengan psikolog atau psikiater. Terus juga, perasaan tak baik-baik saja kan datangnya nggak bisa diprediksi, betul? Saya pernah juga kok, konsultasi pas malem-malem dan kondisi sedang tak baik-baik saja. Kalau sudah seperti itu ya, mengalir saja curhat di konsultasinya. Tetep perhatikan ya bahwa memiliki batas waktu, dan ingat bahwa kalau via chat pasti rasanya berbeda dengan konsultasi langsung.

4. Mending Ke Mana, Psikolog atau Psikiater?

Lagi-lagi kembali ke kebutuhan, biasanya yang ke psikiater itu rekomendasi dari psikolog atau ketika yang dikonsultasikan sudah bukan ranah psikolog. Kalau psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa itu kan pendekatannya medis, jadi bisa juga menjadi informasi edukasi terkait gangguan mental misalnya dari gejala, bagaimana tanda-tandanya, dan sebaiknya treatment apa yang diambil.

Kalau yang baru pertama kali mau konsultasi, saya sarankan ke psikolog dahulu dan bisa sekaligus bertanya apakah perlu konsultasi lanjutan ke psikiater. Kalau saya, konsultasi ke psikiater lebih ke bertanya mengenai obat, mengenai perasaan dan efek yang muncul akan kondisi saya saat ini. Sedangkan ke psikolog adalah meminta anjuran bagaimana untuk mindfulness, latihan pernafasan saat cemas, dan bagaimana menguraikan masalah secara mandiri.

5. Mencari Rekomendasi Psikolog/Psikiater di Halodoc

Sebelum konsultasi, saya mencari rekomendasi psikolog dan psikiater yang ada di Halodoc. Karena lagi-lagi, cocok-cocokkan kan pastinya. Setelah mencari di kolom pencarian Twitter, saya menemukan beberapa nama dan konsultasi, ternyata beneran cocok. Saya merekomendasikan nama Azri Augustin Suciati S.Psi, M.Psi untuk Psikolog Klinis dan Dr. Rina Sugiyanti Sp.KJ untuk Psikiater

Nama-nama lain yang bisa menjadi rekomendasi yang saya temukan untuk psikolog adalah: 
  • Theresia Susanti S. Psi, M. Psi
  • Poppi Rianti Kemala Sari S. Psi, M. Psi
  • Laura Jane Henriette Ajawaila M. Psi
  • Amanda Angela S. Psi, M. Psi
  • Grace Noviana Chandra S. Psi, M. Psi
  • Agnes Anggun Sari S. Psi, M. Psi
  • Jika kamu punya rekomendasi lain, bisa tolong tuliskan komentar ya.

Pengalaman Konsultasi ke Psikolog dan Psikiater di Halodoc

Berkonsultasi ke psikolog dan psikiater ke Halodoc bagi saya cukup membantu, terutama memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan jiwa. Kalau misalnya belum jadwalnya kontrol ulang ke psikiater, bisa bertanya dahulu ke aplikasi ini. Selebihnya bagi saya bisa jadi bantuan untuk merencanakan seperti bagaimana mengelola kecemasan sih, saran-saran dari psikolognya juga aplikatif. 

konsultasi psikolog halodoc

konsultasi psikiater halodoc

Kalau untuk pertanyaan yang sifatnya membutuhkan jawaban yang pasti misalnya diagnosis melalui Halodoc ini nggak bisa ditegakkan ya, memang harus langsung konsul tatap muka di RS terdekat. Biasanya diberi tahu kecenderungan-kecenderungan kalau misal ada. Perbedaanya gimana kalau dibandingkan konsultasi langsung dengan psikolog dan psikiater? Well, tentu saja kalau konsultasi langsung itu lebih luas ya cakupan bahasannya, kalau ke aplikasi Halodoc paling membahas satu dua masalah saja. Tapi secara personal, cukup membantu kalau misal ingin menanyakan hal-hal yang suka terlewat atau baru muncul ketika konsultasi. Bagi yang sedang rutin ke psikiater misalnya, ini bisa jadi membantu.

Terus kalau bahas permasalahan sehari-hari ke psikolog bisa nggak? Bisa banget, dong. Bahas insecurity, tentang kepercayaan diri, perihal stres dalam keseharian, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengenalan akan kesadaran dari diri sendiri. Bagi yang ingin ke psikolog atau psikiater secara langsung namun ragu-ragu, konsultasi di aplikasi Halodoc juga bisa jadi latihan dahulu. Ya minimal, bisa ada sedikit gambaran kalau konsul itu seperti apa.

Nah, kalau kamu pernah juga konsultasi di Halodoc? Bisa bagi pengalaman komentar di bawah, ya! :)
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

2 comments

  1. Konsultasi melalui aplikasi daring seperti Halodoc memang memudahkan di tengah pandemi. Tapi tetap saja ya, interaksi langsung dengan tenaga ahli yang profesional itu tak tergantikan. Kita bisa lihat facial expression, mendengar langsung artikulasi dan intonasi suara. Kalau konsultasi dengan psikolog klinik ini menggunakan chat saja, apa nggak ada via telepon ya mbak? Kalau via telpon kan bisa dengar langsung suara dan respon. Nggak seperti chat yang rasanya datar dari sebatas kata-kata.

    Temen adik saya itu ada yang jadi pendiri start up, Riliv namanya. Selama ini saya cukup memerhatikan dan mengedukasi diri mengenai kesehatan mental, tapi belum pernah mencoba layanan bantuan tenaga profesional maupun dari komunitas yang menawarkan jasa sukarela untuk mendengarkan. Saya pernah sekali berpartisipasi menjadi relawan dalam komunitas Rumah Berdaya untuk para penyintas skizofrenia di Denpasar, Bali. Ternyata dunia kesehatan mental belum terkover dengan baik jika dibandingkan dengan dunia kesehatan fisik yang bisa lebih jelas terlihat keluhannya oleh mata. Ada juga sebuah inisiatif "Teman Baik", di Denpasar. Yaitu jasa sukarela untuk menjadi pendengar bagi siapa saja yang perlu bercerita dan butuh didengarkan oleh seorang "teman baik" (mungkin individu pendengarnya bukanlah orang yang dikenal si pencerita yang perlu jasa mereka karena seorang relawan, tetapi anggota komunitas ini cukup terlatih, tidak menghakimi, dan menjaga privasi juga). Komunitas Teman Baik ini besutan teman-teman psikolog, dan saya cukup senang mengetahui banyak inisiatif-inisiatif dan niat baik untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental 😊.

    Semoga kita sehat-sehat selalu secara bathin dan fisik. Saya setuju, kesehatan itu buka sehat raga saja, sehat mental pun juga penting. Kalau keduanya tidak sama-sama dirawat pasti akan mempengaruhi satu sama lain.

    ReplyDelete
  2. Konsultasi melalui aplikasi daring seperti Halodoc memang memudahkan di tengah pandemi. Tapi tetap saja ya, interaksi langsung dengan tenaga ahli yang profesional itu tak tergantikan. Kita bisa lihat facial expression, mendengar langsung artikulasi dan intonasi suara. Kalau konsultasi dengan psikolog klinik ini menggunakan chat saja, apa nggak ada via telepon ya mbak? Kalau via telpon kan bisa dengar langsung suara dan respon. Nggak seperti chat yang rasanya datar dari sebatas kata-kata.

    Temen adik saya itu ada yang jadi pendiri start up, Riliv namanya. Selama ini saya cukup memerhatikan dan mengedukasi diri mengenai kesehatan mental, tapi belum pernah mencoba layanan bantuan tenaga profesional maupun dari komunitas yang menawarkan jasa sukarela untuk mendengarkan. Saya pernah sekali berpartisipasi menjadi relawan dalam komunitas Rumah Berdaya untuk para penyintas skizofrenia di Denpasar, Bali. Ternyata dunia kesehatan mental belum terkover dengan baik jika dibandingkan dengan dunia kesehatan fisik yang bisa lebih jelas terlihat keluhannya oleh mata. Ada juga sebuah inisiatif "Teman Baik", di Denpasar. Yaitu jasa sukarela untuk menjadi pendengar bagi siapa saja yang perlu bercerita dan butuh didengarkan oleh seorang "teman baik" (mungkin individu pendengarnya bukanlah orang yang dikenal si pencerita yang perlu jasa mereka karena seorang relawan, tetapi anggota komunitas ini cukup terlatih, tidak menghakimi, dan menjaga privasi juga). Komunitas Teman Baik ini besutan teman-teman psikolog, dan saya cukup senang mengetahui banyak inisiatif-inisiatif dan niat baik untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental 😊.

    Semoga kita sehat-sehat selalu secara bathin dan fisik. Saya setuju, kesehatan itu buka sehat raga saja, sehat mental pun juga penting. Kalau keduanya tidak sama-sama dirawat pasti akan mempengaruhi satu sama lain.

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)