Mudik, Ingatan-Ingatan, dan Tentang Keluarga yang Tak Sempurna

Daftar Isi Postingan [Tampilkan]
Idulfitri 2021 telah lewat seminggu lebih, jika dihitung sampai per hari ini. Suasana tentu saja sudah berubah vibesnya dan yang tertinggal adalah sisa-sisa kue kering di ruang tamu—kalau di rumah saya ditambah minuman berkarbonasi yang sudah ngabar. 

kartu pos idulfitri

Tahun ini, saya menyambut Idulfitri dengan tidak tidur dan justru mengisi waktu dengan membuat 2 postingan di blog ini. Alasannya selain karena jam tidur sedang berantakan, juga saya yakin kalau tidur akan kurang nyenyak dan mood bisa berantakan. Maka selama begadang dan ditemani kumandang takbir dari musala sebelah, saya yang paling gasik pula mandi dan menyantap opor yang sudah masak sejak sore hari.

Ini adalah pandemi, eh maksud saya Idulfitri kedua saya berada full di rumah. Saya kira, tahun ini akan melalui dengan rutinitas biasa, namun tidak. Berita bagusnya memang bisa kembali salat Id di masjid, namun terhitung sejak tahun ini, rutinitas kegiatan hari raya akan berubah. Biasanya, rutinitas kira-kira alurnya seperti ini: salat Id, ziarah ke makam, ke rumah kakek nenek dari Ibu, dan kembali ke rumah. Namun tahun ini selepas ziarah, kami berjalan ke rumah saudara dari Ayah dari rumah satu ke rumah lainnya. Hal tersebut dikarenakan, pusat berkumpul keluarga besar letaknya telah berubah. Bukan lagi di rumah nenek dari Ayah karena awal tahun ini beliau berpulang.

Alih-alih menunggu tamu datang ke rumah seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mengikuti langkah-langkah Ayah dan Ibu menyusuri jalan-jalan yang sering dilewati saat kecil. Tujuan utamanya adalah rumah bibi dan paman yang beberapa tahun lebih tua dari Ayah yang memang masih berada di satu desa, hanya berbeda RT dan RW saja. Meskipun tahun ini lebih banyak yang tak pulang, kami menyiasatinya dengan video call saat sedang berkumpul. 

Ada perasaan tertentu yang hadir, seperti kilas balik dan juga perubahan-perubahan yang pasti. Rasanya saya melewatkan banyak hal sehingga tak menyadari bahwa jalan dan tempat-tempat ini juga sudah berubah. Selebihnya, tentu saja pertanyaan-pertanyaan di kepala muncul seperti "beberapa tahun lagi, akan seperti apa, dan sudah menjadi siapa diri ini." Pun, saya merasa tahun ini cepat sekali, lebih cepat dari 2020. Padahal setiap hari rasanya masih kekurangan waktu, namun jenakanya tugas-tugas yang menumpuk masih kalah dengan notifikasi tanggal kembar setiap bulannya dari aplikasi. Ah, manusia ini jadi berkejaran waktu dengan teknologi.

Dari perjalanan dan tentu saja mengamati satu keluarga ke keluarga lainnya, momen Idulfitri selalu membawa saya untuk mendefinisikan, memaknai, atau apapun itu istilahnya sebagai seorang anak. Hal itu karena waktu-waktu identik dengan tradisi pulangnya seorang anak ke rumah orang tua entah yang sudah berkeluarga maupun belum. Pulang ke rumah tempat hatimu berada dan dipenuhi dengan cinta yang melimpah. Sejauh apapun kamu pergi, baik dalam bentuk perubahan cara berpikir, perubahan hobi dan ketertarikan, perubahan pilihan-pilihan yang berbeda dengan orang tua, hingga jarak-jarak antar kota, seorang anak pasti tak terlepas dari keluarga di rumah beserta identitas yang melekat. Hal itu dipertegas lagi ketika sedang momen Idulfitri seperti ini, berasal dari keluarga mana, masa kecil yang tumbuh turut disaksikan dengan saudara-saudara, dan yang lainnya. 

Momen saling bermaafan dengan orang tua selalu mengaduk-aduk perasaan, betapa terkadang rumitnya hubungan antar anak dan orang tua. Saya ingat masa-masa seperti tokoh Christine dalam film Ladybird, di mana tokoh utama tersebut sering tak akur terutama dengan sang Ibu karena memiliki pilihan dan cara berpikir yang berbeda. Anak dan Ibu yang sama-sama tak mau mengalah, sama-sama pemarah dan gengsian, namun ketika jauh dan terpisah jarak baru saling menyadari cinta di antara anak dan keluarganya tak terpisahkan.

Hubungan anak dan orang tua itu selalu rumit dan membingungkan, atau kebanyakan pasti ada fase seperti itu. Perbedaan dari pengaruh pola asuh, beda akses informasi, latar belakang pendidikan menjadikan jarak antar generasi memang nyata adanya. Saya membutuhkan waktu lama dengan cara pandang yang welas asih atau compassion untuk menyadari bahwa tak ada keluarga yang sempurna. Banyak hal-hal yang mungkin sebenarnya tak bisa dipahami bagi seorang anak tentang bagaimana orang tua memberikan cintanya. Tak semua melalui ucapan, bisa melalui tindakan, atau selebihnya bisa melihat dari pola-pola keseharian.

Kita tak bisa memilih juga di keluarga mana kita lahir yang jauh dari 'standar-standar ideal' menurut diri. Sejauh apapun menghindar atau menolak, lambat laun selalu ada saja yang mengingatkan bahwa diri ini adalah bagian dari keluarga. Proses memaknai, memaafkan, berdamai antar individu dengan individu lainnya juga, berbeda. Selain niatan dalam diri untuk mempelajari ulang dengan cara pandang yang berbeda, proses tersebut juga melibatkan kesempatan-kesempatan ajaib di luar kuasa diri. Salah satu kesempatan tersebut bagi saya adalah, momen Idulfitri.

Saya menyepakati juga kata-kata dalam unggahan foto dari Baskara "Hindia", yaitu: mungkin karena kita semua direndahkan hatinya oleh pandemi menjadikan momen Idulfitri terasa sangat berbeda. Ketakutan akan kehilangan dan tak memberikan usaha-usaha terbaik yang bisa berujung menjadi penyesalan panjang pada akhirnya mengalahkan ego, rasa marah, dan rasa kecewa. Bukan berarti tak mengakui atau mengurangi perasaan tersebut menjadi hal tak penting, namun menyadari hal tersebut ada dan melakukan hal-hal yang lebih tepat tanpa dikuasai emosi-emosi negatif. Selebihnya biar dikembalikan pada Sang Pemilik Hidup, menyerahkan segala rasa tak nyaman, rasa kecewa, menyerahkan usaha-usaha karena semuanya berasal dariNya dan tentu saja berusaha berbaik sangka atas skenario-skenarioNya.

Selamat Idulfitri bagi yang merayakan, semoga tahun depan bisa berjumpa kembali dan diberikan kesempatan untuk berkumpul secara utuh dengan orang-orang tersayang.

***
Ditulis sembari mendengarkan lagu Mendarah - Nadin Amizah dan Selaras - Kunto Aji & Nadin Amizah berulang-ulang dan bergantian.

"Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tema ‘Mudik dalam Tulisan’  yang diselenggarakan Warung Blogger
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

30 comments

  1. Saat mudik, aq hampir enggak pernah mengalami pertanyaan2 yg ngeselin. Entah karena aq memang menikah cepat di usia 24, bekerja juga, lalu langsung pny anak juga, jadi menurut mereka sdh masuk standar ideal yg ga perlu dipertanyakan lagi. Ingatan mudikku lbh banyak ttg makanan, dan canda tawa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudiknya Mbak Dian seru banget, banyak makanan khas masing-masih daerah ya. :D perlu traveling jauh dulu nih aku siapa tahu jodohnya orang jauh, jiaaakh wkwkkw

      Delete
  2. "Sejauh apapun menghindar atau menolak, lambat laun selalu ada saja yang mengingatkan bahwa diri ini adalah bagian dari keluarga." Aku setuju banget sama kalimat itu. Kadang, ada rasa tak selaras atau bahkan benci pada ortu. Tapi ada saat, Allah mengingatkan dengan cara-Nya bahwa aku ini anak dari mereka, bagaimana diri ini tumbuh dan besar dengan tangan mereka. Jadi, ya, kita emang enggak bisa lepas dari keluarga yang enggak bisa dipungkiri memberikan warna pada diri kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimanapun, fakta itu betul ya. Aku bersyukur ternyata jawaban ini menunggu waktu yang bertahun-tahun. Meskipun sering konflik, kalau nanti ada titik sama-sama saling memahami itu bagiku yang indah dan mengharukan

      Delete
  3. Mohon maaf lahir dan batin ya Mba. Pernah sekali jalan ke Bogor kita ya. Moga ada rejeki ketemu lagi ya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon maaf lahir dan batin juga, Mbak Nyi. WAAAH IYAA, DOOONG. 2019 yak? Lama juga. Aamiin Mbak, kangen juga ketemu blogger keren ini

      Delete
  4. mungkin karena kita semua direndahkan hatinya oleh pandemi menjadikan momen Idulfitri terasa sangat berbeda.


    Ini kok benerrr banget!
    Dalam beberapa aspek, corona memang jadi semacam 'blessing in disguise' ya mba

    Semogaaa kita semua sehat wal afiat, aamiiinn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha iya, Mbak Nurul. Aku tadi mau nulis blessing in disguise kok, lupa. Ya intinya itu lah hihi. Memang menghadapi hal2 ini harus punya pikiran yang jernih dahulu jadi bisa memahami dan memaknai dengan cara yang lain..

      Delete
  5. Tak ada keluarga yang istimewa, dan kita tak bisa memilih akan dilahirkan di mana. Getir oleh kenangan bersama keluarga bisa jadi sebuah penyemangat bahwa kita bisa membangun keluarga yang lebih baik untuk anak keturunan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, bisa menjadikan motivasi. Ini bahkan bisa jadi perasaan yang indah apalagi kalau diliputi dengan ikhlas :D

      Delete
  6. Wah, membaca postingan ini harus pelan2. Soalnya setiap kalimatnya bikin aku jadi ikutan berpikir dan memaknai juga nih, Mbak Marfah.

    Tapi memang pandemi membuat rasa idulfitri jadi berbeda. Semacam yang tadinya hanya dianggap rutinitas dan bagian dari sekadar perayaan tiba2 jadi momen penuh makna yang dirindukan.

    Aamiin. Semoga tahun depan bisa berkumpul bersama di hari raya secara utuh, baik dari kehadiran maupun perasaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MashaAllah, semoga tak membingungkan ya, Mbak Mit hehe. Iya, mungkin karena memang biasanya jadi ajang berkumpul sekarang tak bisa "full team", beralih ke pemaknaan dan jadi mengingat-ingat mengenai diri sendiri, lingkungan, dan rumah

      Delete
  7. anak Indie banget ya. lagu penemaninya si Nadin, Kunto Aji, dan Hindia
    soalnya aku juga suka lagu-lagu mereka sih, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. WKWKWKKWKWKKWK ah Kak Rhos, sebenernya saat ini playlistnya Kpopers tapi pas nulis ini ingetnya lagu-lagu senja senji XD

      Delete
  8. Hubunganku dan ortu terutama ibuku juga rumit mbak. Tapi lebaran justru jadi momen kami saling maaf-maafkan. Ibuku biasanya sampai nangis. Dan saat lebaran, kami juga lebih akrab karena masak bareng, dll. Tapi memang ga semua orang bisa sesantai itu menghadapi lebaran ketika harus bertemu dengan ortu yang hubungannya rumit. Doa terbaik untuk mba dan keluarga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makin ke sini dan mungkin sudah lumayan kejadian dalam hidup jadi membuat kami saling-saling memahami. Biasanya kalau sudah mulai jauh-jauhan, malah cintanya baru terasa besarnya. Rumit unik gitu lah hihi

      Delete
  9. Whaa produktif ya mbak. Bisa dapat 2 postingan blog di malam idul fitri.
    Momen idul fitri bisa memiliki banyak arti ya. Semoga tahun depan idul fitri lebih bermakna lagi dan lagi ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sebenarnya karena meneruskan draft jadi bisa dapat 2 postingan. Karena semuanya sudah beres untuk persiapan jadinya memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan postingan

      Delete
  10. Aamiin, semoga bisa ketrmu lagi dengan idul fitri tahun depan dalam suasana yang lebih nyaman ya mbak, tak apa dengan yg tak sempurna, tapi rasanya jika tidak bersama akan makin tidak sempurna. Jd dinikmati saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk iya Mbak, daripada makin mengutuki malah nanti nikmat yang sudah ada diambil. Nanti baru nyeselnya banyak lagi

      Delete
  11. sungguh luar biasa sekali ya um, tidak tidur sama sekali di malam hari raya.

    Apa ora puyeng kuwe sirahmu um?

    Ya memang benar juga sih, sebelum menjadi perantau dan melakukan mudik setiap tahun menjelang hari raya, dulu momen hari raya selalu dilewati dengan pikiran-pikiran yang tak pernah selesai untuk dipikirkan. karena selalu saja muncul pikiran pikiran yang baru dan mengganggu, dan merusak jam tidur karena terus memikirkan hal itu.

    Untuk berbagai hal yang terjadi lagi, tentu saja adalah munculnya berbagai macam jenis-jenis pertanyaan yang muncul sewaktu berkumpul dengan keluarga di hari raya, bisa perihal studi, namun seringnya yang ditanyakan adalah perrtanyaan soal jodoh dan asmara, ya mau bagaimana lagi, namanya juga hari raya.

    Selamat Hari Raya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. WKWKWK Alhamdulillah lagi nggak migren, ya karena nggak ngopi sih begadangnya :))

      Dulu kukira pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran akan hilang dengan sendirinya seiring bertambah usia juga, ternyata malah sebaliknya. Ya sudah, artinya ganti cara berpikir dan beradaptasi kalau hal-hal kaya gini akan terus ada dan berdampingan XD

      Delete
  12. Saya senang kalau berkunjung
    Bisa makan kacang sepuasnya dari rumah ke rumah
    Haha
    Soalnya kalau di rumah sendiri sejak menikah sudah ada polisinya
    Nggak boleh kebanyakan supaya ga asam urat
    Sekarang...
    Mudik entah bisa di tahun kapan
    Inginnya segera berganti 2022 lagi agar bisa ke kampung halaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayooo hayoooo jangan kebanyakaan XD kalau saya dari rumah ke rumah, pasti cobain nastarnya :D eh kadang kalau ada kacang, suka nyemil juga siiiih

      Delete
  13. Sayangnya, perasaan takut kehilangan it yang membuat orang rela melakukan apapun demi ketemu dengan keluarga ya. Bukan malah menjaga kesehatan supaya bisa bertemu kapan pun Kita mau kelak kalau dunia sudah lebih aman

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak yang begini, semoga sih dilakukan dengan tanggung jawab dan tak membawa virus

      Delete
  14. Ya Mbak, momen saling bermaaf-maafan antara orang tua dan anak memang paling mengaduk-aduk perasaan. Saya selalu tidak bisa menahan air mata kalau sudah bersimpuh dan berpelukan dengan orang tua. Sedih sekali...

    ReplyDelete
  15. Saya dulu juga termasuk yang agak malas kalo berlebaran ke kerabat karena pasti dapat pertanyaan mana calonnya, kok belum nikah-nikah sih, nunggu apalagi?
    Mereka nggak tahu kalo saya sudah berusaha sampai jatuh bangun tapi kalo belum waktunya ya gimana hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, pertanyaan yang sekali dua kali bisa diajak bercanda namaun kalau terlalu sering memang jadi menyebalkan juga :D

      Delete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below (p.s: Mohon klik "NOTIFY ME" untuk mengetahui balasan komentar melalui email)