The words. The thoughts. The journal.

October 28, 2015

Introvert Juga Harus Speak Up




                Alhamdulillah, udah 3 bulan ini status saya ganti dari pelajar jadi mahasiswa. Serangkaian acara penerimaan mahasiswa barupun udah dilalui, dimulai dari meet up kelompok ospek Universitas sampai canggung sekedar  mau “say hi” kakak-kakak komdis di fakultas. Begitu banyak perbedaan yang saya rasakan begitu masuk ke ranah kuliahan, salah satu yang bikin saya tertarik adalah : aroma semangat masa muda. 
October 27, 2015

Giveaway "Hari Blogger Nasional"



Selamat hari blogger nasional! Sebelumnya, terimakasih pada internet, karena tanpa internet saya nggak akan punya hobi ngeblog ini (nggak bisa bayangin kalo nggak ada hobi ini, ditambah nggak punya tujuan hidup, dengan adanya hobi ini kan minimal jadi : belum punya tujuan hidup dan hobi geblog), terimakasih pada Sigit Nur Pratama, saya ngeblog karena dulu liat blog dia, terimakasih pada Faiz Agil Wirawan, yang blognya sudah bisa menghasilkan dan secara nggak langsung menghidupkan kembali hobi blogging yang lama hibernasi, terus terimakasih juga buat yang udah berkunjung dan komen-komen ke blog saya selama ini.
October 25, 2015

Pak


                Dan pada hari itu, ingatanku kembali ke 12 tahun silam, saat aku keluar dari gerbang SMA ini dengan baju warna-warni dan penuh tanda-tangan. Di tempat inilah, aku mengenal istriku, Irina.

“Yah, sampai sini aja, kata kakak OSISnya gak boleh sampai gerbang, nanti macet.”

Suara Ariana membuyarkan lamunanku, dengan cepat aku mematikan mesin, dan menyalami gadis ini di hari pertamanya MOS, sempat berbalik tersenyum dan menghilang bersama kerumunan siswa lainnya. Di saat itulah aku bagai melihat Irina saat SMA. Ah, Irina, sayang kau tak bisa mengantarnya bersamaku, pasti akan sulit sekali menjadi ibu dan ayah baginya. Terimakasih telah membawa Ariana dalam kehidupanku.
October 22, 2015

Tentang Pertemuan-Pertemuan






Sudah selayaknya garis takdir, takkan ada perpisahan tanpa pertemuan. Pertemuan pertama tak selalu berjalan dengan manis, ada kalanya kita saling memaki atau melempar emosi, atau justru pertemuan pertama yang begitu puitis di halte saat hujan turun.



Ya, siapa tau? 


                Namun ini bukan cerita tentang pertemuan atau surat cinta yang entah keberapa dari seorang gadis yang sedih. Ini adalah, yah, bisa kau nilai sendiri pada akhirnya.

Mari mengingat hal-hal yang bahagia. Mungkin akan sulit mengingat pertama kali kau bertemu dengan orangtuamu, yang ada kau sedang menangis. Tapi kau bisa tanyakan kepada mereka, sudah pasti mereka akan menjawab “Kami begitu bahagia”

Beranjak ke Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar, ingat siapa teman pertamamu? Teman yang pertama kali mengucapkan “Hai” dengan senyuman lebar? Atau kau sendiri yang mengucapkan “Hai”? Kita begitu bahagia saat itu dan tak akan menyangka akan menjadi teman sampai sekarang.

Atau bila tak ada yang menyapamu,mungkin gurumu, dia bertanya “Siapa namamu?” dengan senyuman teduhnya.

Kemudian, masa SMP, kau akan bertemu dengan banyak lagi individual unik di SMP. Lalu SMA, pertama kali kau merasakan jatuh cinta. Kuliah, dimana kau makin menyadari betapa uniknya semua orang. Dan kerja, saat kau bertemu orang-orang dan pribadimu yang sudah dewasa.

                Lalu ada internet, dimana kau bisa bertemu dan tertawa lepas dengan secangkir kopi menghabiskan waktu bertemu dengan teman onlinemu. Pertemuan dengan parter bisnis? Pertemuan dengan calon mertua?

                Banyak hal yang begitu menarik di dunia ini karena berawal dari pertemuan. Dengan pertemuan kau akan mempunyai beberapa sahabat, yang dimana ketika kau bersamanya, kau adalah kau, tak menipu siapapun. Lalu pasangan hidup. Dan semuanya.

Jika diingat-ingat lagi akan seperti “Kok bisa ya?”, yap, semua terjadi karena suatu alasan, tak ada suatu hal yang kebetulan.

Temui jutaan pribadi unik lainnya dan berbahagialah.

***

Imgcr : www.fansshare.com
October 16, 2015

Manusia dan Nama




                Apalah arti sebuah nama, begitu kata orang. Banyak nama-nama unik di dunia ini, dari mulai hanya satu karakter sampai separagraf-kalau ada. Biasanya nama akan terkenal jika sang pemilik adalah seorang yang menonjol, baik dari sisi positif maupun negatif. Beberapa orang juga terlahir tanpa nama dengan catatan mereka tak memiliki nama dari orang tua kandung sehingga mereka membuatnya sendiri, beberapa orang juga tak suka dengan nama yang telah diberikan sehingga membuatnya sendiri.

Dan ada juga begitu banyak nama yang pernah hidup dan mati begitu saja tanpa kita membaca namanya saja tidak.

Seberapa penting sih nama itu?

Katanya nama adalah doa dan harapan.  Lalu bagaimana jika kita tak “sesuai” atau bahkan terjebak dengan nama kita.

                Yap, sekitar setahun lalu saya sempet tanya sama temen saya, Rosyi, begini, “Ros, saya cocok nggak sih sama nama saya?” yang dijawab dengan ketawa “Ya cocok lah” lengkap dengan tambahan telor kerupuk sambalKoe leh aneh-kamu kok aneh?”.

Lalu mundur lagi ke tahun-tahun sebelumnya, ketika saya melihat kartu keluarga dan akta kelahiran. Apakah ini benar saya, anak mereka? Tujuan saya apa? Sebuah misi? ­­- Emangnya Naruto.

                Aneh? Nggak, normal bagi manusia mempertanyakan apa tujuan dari eksistensinya di dunia ini, bukan?

Balik lagi ke topik nama, saya terlahir dengan nama Umi Marfathonah. Nama khas Indonesia dikalangan keluarga beragama Islam, tanpa marga, karena orang-orang jaman dulu pun namanya hanya satu kata. Simpel, yak?

                Jika dilihat dari arti yang-udah-terlihat-sama-kearab-arabannya-tapi-mukanya nggak itu udah pasti, Umi artinya ibu, Fathonah artinya cerdas, sedangkan Mar-hanya imbuhan, Maret (kalau arti dari bahasa Inggris sih merusak, merusak rasa males yeas) . Dan fyi, teman saya sekarang ada yang namanya Umi Fatonah, terimakasih enyak babeh atas Mar-nya!

                Lalu, sempe nyari-nyari arti nama sendiri di internet di internet dan justru lebih banyak arti yang saya temukan, just try!

Umi dalam bahasa Jepang artinya laut atau samudera, Marfa dalam bahasa Rusia artinya wanita, Fath dalam bahasa Arab artinya penakluk, penyerang, pembuka atau kemenangan, dan Onah artinya satu dalam bahasa Irlandia, anggun dalam Lithuania dan favored by God. Dan ternyata Marfa juga sebuah kota kecil di Texas, oh I really want to go there!
 
Beautiful, isn’t it?

                Masih inget tentang anagram di postingan ini? Lalu kalo main anagram, saya malah nemu sepasang pertanyaan dan jawaban lucu, begini “Froth! Am I a human?” (Omong kosong, apakah saya seorang manusia?”)  Huh, I’m a man of art” atau biar ada sisi ngenes “Ah! I’m a man of hurt” atau, terserah yang baca-kalo nggak sibuk. Nama aja bisa bercanda.
Resmi tercatat dalam database negara, dan, mudah terlacak. Terkadang suka nyembunyiin identitas biar kayak CIA di pelem-pelem, udah ini lupakan aja.

                Kau boleh menggonta-ganti namamu, tapi kau tetap kau. Jadi, apa arti namamu?

***

Sumber gambar : ilovehdwallpapers.com |
October 15, 2015

Road to Ninja: Naruto the Movie (REVIEW)




Judul Film : Road to Ninja – Naruto the Movie
Sutradara : Hayato Date
Penulis : Yuka Miyata & Masashi Kishimoto
Cerita : Masashi Kishimoto
Tanggal Rilis : 28 Juli 2012 (Jepang)
Durasi : 109 menit
Genre : Animation, Adventure, Fantasy
Pengisi Suara : Junko Takeuchi, Chie Nakamura, Toshiyuki Morikawa
Sinopsis : 

Naruto Uzumaki dan rekannya di Konoha melacak dan menghadapi Akatsuki yang melarikan diri disaat pertempuran. Rekan-rekan Naruto dipuji oleh keluarga mereka sementara Naruto sendiri dalam kesepian. Malam itu, Sakura Haruno mengajak Naruto ke taman untuk berbicara tentang orangtuanya. Saat itu juga mereka berhadapan oleh Tobi yang dilacak Naruto ketika Akatsuki memberikan segel pada dirinya. Tobi kemudian menggunakan teknik Gentei Tsukuyomi (限定月読?, lit. Limited Moon Reading) dan membuat keduanya berada dalam ronologi yang nyata. Selanjutnya di WikiPedia 
October 14, 2015

Critical Eleven (REVIEW)




Judul Buku : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamaora
Jumlah Halaman : 344 hlm (softcover)
Genre : Nonfiksi, Romance - MetroPop
ISBN : 978-602-03-1892-9
Tahun terbit : 2015, Agustus
Harga : Rp 79.000,00
Sinopsis : 

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.