Kontemplasi Pertengahan Tahun

2020, meskipun terlihat pesimis namun sudah berjalan setengahnya—bahkan lebih satu bulan. Terakhir kali saya menulis perenungan, ada di postingan 7 Hal Yang Saya Pelajari Dari 2019 pada bulan Februari lalu. Saya tak terbiasa menulis kontemplasi pertengahan tahun seperti ini, namun akibat kondisi yang menyebabkan perenungan membuat saya gatal untuk tak menuliskannya. Tak mau kalah dengan Taylor Swift yang mengeluarkan album folklore kemarin. Ngomong-ngomong, sudah mendengarkan lagu exile?

hidup mengajarkan sebuah cerita

Berharap Ini Hanya Mimpi Buruk

Perubahan tersebut bukan hanya pindah tempat untuk saya, namun juga memberi jeda untuk lebih memahami diri sendiri dan memperbaiki pola pikir. Benar-benar tak disangka bahwa dan semuanya nggak seburuk itu, dan tentunya saya sangat bersyukur. Awalnya masih terasa sulit dan berpikir bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk dan terbangun dalam keadaan yang biasa. Bangun, kemudian mandi, menuju coffee shop langganan, mengetik sampai mata pedih, makan, dilanjut bercengkrama dengan teman. Tentu saja, yang ada pada saat ini adalah situasi baru yang berbeda.

Postingan terkait:
Sudah Satu Bulan di Rumah Aja dan 4 Hal Berharga Yang Disadari

Berbicara Mengenai Ketakutan Terbesar Dalam Hidup

Terhitung sejak Maret, saya jadi lebih memetakan bagaimana perasaan-perasaan saya, bagaimana cara berpikir, dan bagaimana dalam menanggapi sesuatu. Tentu saja, saya rasa manusia dalam perjalanannya terutama ketika beranjak dewasa, akan memahami pola-pola mana yang sepertinya terlihat menganjal dalam diri. Pola tersebut memengaruhi bagaimana bertumbuh baik hubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Misalnya, trauma, inner child, atau unfinished business yang bisa saja selama ini dianggap biasa saja atau diabaikan—padahal hal tersebut berpengaruh.

Berbicara mengenai ketakutan dalam hidup, saya mulai lebih mengamati perjalanan di belakang yang nggak mulus-mulus amat namun ternyata tetap menyenangkan juga. Ada beberapa kejadian yang membuat saya takut, seperti takut menjadi tua—padahal tentu saja bisa memilih untuk tetap berjiwa muda. Saya takut menjadi nomor sekian dalam apapun dan kemudian terabaikan. Saya takut untuk terus-terusan tak merasa bahagia. Saya juga ternyata tanpa sadar takut akan perubahan dan perasaan tak aman yang seringkali tak membuat saya hidup di masa kini—entah kadang terjebak di masa lalu atau terlalu mengkhawatirkan masa depan.

Butuh waktu yang lama, namun setidaknya saya menyadari bahwa ketakutan-ketakutan tersebut hanya akan terus menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran di kepala, menumpuk, dan berjalan di tempat yang sama karena terus berada dalam gelembung diri sendiri. Terkadang karena terlalu khawatir, jadi malah takut untuk tambah melangkah atau sekadar bertemu dengan orang karena insecure. Saya mencoba membuat catatan jurnal dan syukur yang cukup dapat membantu, bahwa apa yang dipikirkan atau yang ada di kepala tak tentu sama dengan ada di kenyataan. Bukan hanya berhenti sampai di situ, namun usaha yang terus dirawat. Tak perlu terburu-buru, namun jangan juga terlalu santai.

Belajar Mencintai dan Merawat Kehidupan

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian—begitulah mengutip dari Pram. Saya juga pernah membaca perihal berani untuk hidup ini, yang betapa bagaimana hidup yang menyebalkan, menyedihkan, membuat putus asa namun selalu timbul harapan-harapan ketika ingin menyerah.

Saya teringat Rhaka Ghanisatria dalam video Menjadi Manusia episode Berjatuh cintalah dengan takdir apapun yang Ia kasih yang mengenalkan konsep Amor Fati. Singkatnya bercerita bahwa jalan kita sendiri adalah petualangan yang menyenangkan juga, seringkali terkubur atau merasa biasa saja jika mulai membandingkan dengan orang lain.

Betapa sejatinya kalau melihat ke belakang tuh, kita bisa kok sekuat dan setangguh itu. Mungkin nggak berasa, tapi sudah berubah menjadi lebih kuat dan bijak. Saya jadi teringat kutipan yang pernah saya baca:

Hidup tak akan pernah berubah menjadi lebih mudah. Kamu hanya perlu menjadi lebih kuat. In the end of the day, It doesn't get easier. You get stronger.

Tentunya ya, hal ini membutuhkan sebuah penerimaan yang senantiasa dirawat dan jatuh bangun berproses. Lelah juga kalau terus-terusan lari, enggan mengenal, dan denial. Belajar lagi untuk live and love my life—seperti kata Avicii dalam lirik lagunya “One day you'll leave this world behind. So live a life you will remember~”. 

Bagi setiap orang, pemaknaan dalam usaha mencintai dan merawat kehidupan akan berbeda-beda. Nggak selalu yang enak-enak, barangkali yang akan mengubah hidup dan menjadi titik balik itulah saat-saat yang tak menyenangkan. Jangan menyerah untuk terus bertanya kepada diri sendiri dan tentunya mengizinkan diri sendiri untuk tak apa-apa berbuat kesalahan dalam prosesnya.

Untuk Terus Mencari Makna dan Harapan

Dalam film Harry Potter, ketika sedang berada di dekat dementor maka segala kesenangan dan kebahagiaan akan perlahan lenyap jika tak segera mengucap mantra expecto patronum. Tak sebatas hanya mengucapkan mantra agar dementor tersebu menjauh, namun sembari mengingat hal-hal paling membahagiakan dalam hidup—ingatan yang sangat kuat sehingga menimbulkan kembali keberanian.

Sama halnya dalam kehidupan, meskipun tanpa datangnya dementor. Di masa-masa tak menyenangkan dan rasanya seperti ingin menyerah saja, mengingat keberhasilan sekecil apapun itu yang terkenang akan memberikan harapan sedikit demi sedikit. Ingatan tersebut milik diri sendiri, apapun itu, yang berharga dan memiliki makna.

Postingan terkait:
Variasi Hidup Mencari Makna dan Selalu Ada Harga yang Harus Dibayar
Melihat Konsep Yang Lebih Besar dan Tak Akan Selamanya Menjadi Nomor Sekian


Saya memerhatikan pola selama ini bahwa saya selalu mencari makna untuk berusaha lebih baik dalam menjalani kehidupan. Makna tersebut yang memberikan harapan misalnya untuk bertahan sedikit lagi, untuk tak menyerah begitu saja, dan untuk mengajak diri sendiri bekerja sama menuju petualangan-petualangan yang selanjutnya. Saya rasa, perlu untuk terus menemukan alasan-alasan sekecil apapun dalam hidup untuk menjadi pengingat mengapa kedua kaki ini harus terus berjalan. Hidup memang bukan film atau novel fiksi yang petualangan-petualangannya menyenangkan, setakberuntung apapun memiliki support system yang baik, atau keberuntungan dengan perenungan yang tak begitu lama. Namun saya rasa, akan tetap layak untuk dijalani.

Kalau kamu, ada cerita apa selama bulan-bulan ini? Sampai jumpa lagi di cerita tentang petualangan dalam hidup yang menyenangkan!
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

8 comments

  1. Sepanjang pandemi aku belajar untuk berdamai dengan diri sendiri dan keadaan lagi. Semoga kita semua bisa menjalani hidup masing2 sebaik mungkin ya. :')

    ReplyDelete
  2. Sejak kerja dari rumah di bulan Maret, aku baru sadar, kalo ketakutan dalam hidup aku adalah kesendirian :) padahal lebih seneng kalo lagi sendiri tapi di tempat ramai.

    ReplyDelete
  3. Selama pandemi , diriku malah berjuang keras bekerja di garis depan, tapi betapa sedihnya diriku saat keadaan adaptasi baru seperti sekarang ini malah semuanya back to normal

    ReplyDelete
  4. Innerchild... saya juga harus menghadapi ini dan entah kenapa selalu menjadi unfinished. Bahkan sering digarami sehingga sering perih kembali.
    mungkin karena istilah ini hanya sedikit yang tahu.

    ReplyDelete
  5. Wah saya lum pernah kepikiran kontemplasi tengah tahun, tp sprtinya menarik krn bs meluruskan klo target kok jd jauh Ya hehe

    ReplyDelete
  6. Kok ya pas banget sebelum baca ini aku dengerin lagu Hivi yang judulnya Jatuh Bangkit Kembali :D
    Tahun ini kyknya segala rencana ambyar tapi kalau ingat2 lagi resolusi awal tahun kyknya gak masalah membuat bbrp perubahan :D #imho

    ReplyDelete
  7. Sejujurnya yaa...awal pandemi, waktu terasa lambaan berjalan.
    Aku bosan dengan segala kegiatan di rumah bersama anak-anak dan suami. Sungguh, sama seperti dirimu yang berharap, ini hanya mimpi buruk dan seketika terbangun membuka mata mendapati bahwa ini semua hanya mimpi.

    Tapi bergulirnya hari, akhirnya...
    Aku berbahagia dengan takdir. Berdamai dan berusaha mencari "Apa yang disebut dengan bahagia."

    ReplyDelete
  8. Ada kalanya kita harus diam dulu sejenak mbak, memberi jeda sama tubuh dan pikiran kita meski akhirnya mau gak mau harus beranjak lagi

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: Sorry, a comment with an active url will be deleted)