Oktober 2020: Kita Coba Lagi

Tahun ini sepertinya jadi banyak menulis yang sendu-sendu dan selalu ada saja yang rasanya meminta dikeluarkan dari kepala agar tak penuh. Jika biasanya judul juga turut sendu, kali ini dibumbui dengan sedikit harapan semangat. Bosen juga kalau sedih-sedih mulu dan capek juga sih, hehe. Sebagai awalan, bolehlah jika luang untuk membaca postingan-postingan serupa dengan judul-judul berikut:

raining and sadness
pict: @samuelfoster_co_uk, unsplash


Ada waktu-waktu di tahun ini, beranjak bangun dari kasur dan melewati hari sudah menjadi pencapaian yang begitu besar. Rasanya sangat bertolak belakang dan tak bisa berlama-lama melewati kehampaan meski terkadang saya membutuhkan ruang sendiri untuk beristirahat banyak-banyak. Rasanya mungkin seperti workaholic yang pensiun, aktivis yang sudah tak memiliki lingkungan untuk bergerak, atau superhero yang mengalami penurunan kekuatan. Barangkali kiasannya terlalu berlebihan, namun jika disederhanakan menjadi powerless atau tidak berdaya. Untuk menjadi pusat dunia bagi diri sendiri saja sudah melebur dan tak lagi ada bahkan untuk ruang ingatan. 

Saya tahu, peralihan ini jadi membuat bukan hanya saya untuk dapat lebih melihat realita yang sebenarnya namun sayangnya hal tersebut bukan hal yang mudah bagi saya. Saya tahu seharusnya saya melakukan sesuatu namun tak kunjung melakukan satu langkah pun. Setiap kali bangun bukan untuk menyambut kesempatan baru namun membayar hasil dari kesalahan yang sudah-sudah. Harapannya pun hanya satu, yaitu keberuntungan semata. 

Tiap tarikan nafas rasanya berat sekali, namun bukannya tak melakukan apa-apa untuk mengurangi pikiran-pikiran yang membuat kepala penuh. Namun, baik menahan maupun melepaskan—keduanya tak ada bedanya atau sama-sama menyakitkan. Ini mengingatkan saya akan film Insurgent di mana Tris sedang diberi serum untuk berkata jujur atau fakta yang sebenarnya. Serum tersebut saking kuatnya tak dapat dilawan dengan bagaimana pikiran manusia menahan suatu ketakjujuran, hasilnya sudah pasti Tris merasakan sakit sebelum berkata jujur. Pun setelah berkata hal yang selama ini dipendam, rasa bersalah itu tetap ada di sana. 

Butuh waktu begitu banyak untuk saya untuk berduka, namun sayangnya entah sampai kapan karena akan terus-terusan datang kembali. Waktu berjalan cepat sekali namun saya justru malah melambat. Namun bukan berarti menyerah begitu saja, dicoba lagi dan dicoba lagi. Terkadang untuk beberapa hal dan keadaan, saya hanya membutuhkan langkah kecil saja. Seperti lagu Rehat oleh Kunto Aji, kita coba lagi, kamu sudah separuh perjalanan.
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

1 comment

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: Sorry, a comment with an active url will be deleted)