Menjadi Manusia Yang Less-Transactional

Sudah lama saya ingin menuliskan topik ini, namun narasinya kurang kuat kalau hanya dengan satu pengalaman saja. Dalam proses bertumbuh, dan memang saya sendiri suka bertanya-tanya selalu hanya satu pertanyaan yang ada di kepala yang berputar-putar setiap harinya. Yaitu, apakah pure atau kemurnian itu sendiri pada manusia, yang mana juga menyangkut ke kebenaran-kebenaran.

creativity
sc: unsplash

Rumit ya? Jadi gini, pernah nggak Anda-kamu-kalian sekalian ketemu seorang teman yang baiknya minta ampun, seperti murni dari dalam, bawaan lahir, dan tak dibuat-buat kemudian seketika membuat diri sendiri “kotor” padahal nggak ngapa-ngapain? Terus jadi bertanya-tanya apa prinsip dan ideologi hidupnya, rasanya udah ke mana-mana kok ternyata seperti berjalan di tempat? Sedangkan diri sendiri selalu berusaha baik karena ya untuk itulah hidup, kan bagaimana kita akan diperlakukan orang lain tentu saja bagaimana kita juga memerlakukan orang lain. Sejenis sesuatu yang memang kita harus membiasakan dengan terlebih dahulu deal with it.

Gampangnya, pernah nggak ngerasa usaha banyak tapi hasilnya sama dengan yang usahanya sedikit atau biasa aja? Dari sini nantinya jadi malas buat usaha lagi, padahal mah alesan kita aja. Jangan denial, perluas lagi cara pandang ini karena saat ini mungkin nggak works tapi bisa invest buat suatu hari dan bakal works. Well, sorry for the mixing languages.

Saya belajar banyak mengenai usaha yang berulang-ulang ini, untuk terus berjalan dan tak mudah menyerah, ternyata memang sebuah mental yang susah sekali dibentuk. Lagu yang dibawakan Rara Sekar dan Hindia seakan memberi garis bawah:
Telat kusadar
Hidup bukanlah
Perihal mengambil yang kau tebar

Di lagu sebelumnya yang berjudul Bunga saat berada di Banda Neira juga memberikan lirik “Tak semua yang kita tanam kita tuai bersama”, kembali menegaskan makna akan hidup yang sejati, bagaimana tak selamanya apa yang kita lakukan harus berbalas baik pada kita seperti yang kita harapkan. Seringkali memang kita akan kecewa terhadap realita yang sesuai harapan, dan disayangkan jika hal tersebut terjadi berulang-ulang. Maka harus ada mindset yang diubah jika ingin terus berkembang, harus memandang dalam perspektif yang lebih luas lagi dari pada hanya berputar-putar dalam satu tempat.

Kala saya meminta sedikit tulisan dari Kurnia Bijaksana saat seusai seminar beasiswa, yang ditulisnya adalah:
“Be the hardest working person in the room. If you are the smartest person in the room, you are in the wrong room, find a more challenging room and conquer it.”

See? The-hardest-working-person alias yang tak kapok belajar sekalipun itu melakukan kesalahan berkali-kali. Bisa sih, usahanya biasa aja namun hasilnya tentu ya biasa aja. Nggak ada pleasure maupun pride. Hidup kan berkelanjutan dan berdinamika, jadi sudah saatnya memaksimalkan fungsi otak dengan berpikir dan bertindak namun tetap menjaga kontrol diri.

Kala perjalanan ke Yogyakarta untuk acara Startup Coop Camp dengan Aef Setiawan Maret 2019 lalu juga memberikan insight tentang ini. Aef membuat presentasi tentang traksi dalam bisnis, yang kemudian dijelaskan bahwa dalam bisnis selalu usahakan ada value lebih yang diberikan dari pada yang dibayarkan oleh pembeli. Misal saja gampangnya ambil contoh kedai kopi yang sedang menjamur saat ini, pembeli memang hanya membayar kopi, namun fasilitas yang didapatkan bukan hanya tempat, ada WiFi dan jika di coworking space bisa saja menemukan rekanan bisnis, foto yang bagus untuk diunggah, dan tak dibatasi waktu. Kenyamanan dan kepuasan itu yang menjadi nilai tambah.

Gie, dalam Catatan Seorang Demonstran juga turut memberikan lini dalam prosanya:
“Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak pernah kehilangan apa-apa.”

Manusia kan memang, pekerjaanya hanya mengompos, kalau kata Sujiwo Tejo. Bukan creating, itu tugas Tuhan. Kadang kita lupa dan glorifikasi bahwa itu milik kita sendiri, namun tentu saja selalu banyak orang yang berpengaruh entah dari pengalaman di masa lalu, atau sekarang secara tak langsung. Terus bergerak, karena itulah yang membuat kita menjadi manusia.

Kemudian, yang terakhir adalah ketika saya berkesempatan bertemu dengan Pak Nawolo Tris Sampurno, kembali menegaskan mengenai sikap ini dalam kehidupan. Awalnya sih memang cerita marketing dalam bisnis, tapi saya kira dapat diambil korelasinya. Dalam pengalaman menurutnya, kita hanya akan mendapatkan 10% dari apa yang kita lakukan. Menawarkan ke 10 orang, hasilnya 5 tak peduli, 3 hanya melihat-lihat, dua sampai tanya-tanya, dan hanya satu saja yang deal. Jadi perlu upgrade mental lembek ke mental baja biar baru dua tiga kali sudah menyerah.

Jadi, memang tak selamanya melakukan sedikit usaha atau sedikit hal punya dampak yang besar. Sangat jarang,apalagi jika sudah berpikiran akan kembali ke kita atau transaksional. Yang ada hanya berjalan di tempat. Bukan menjadi non transaksional kok karena nggak mungkin juga sama sekali, namun less-transactional. Gampangnya, melatih mengharap pamrih secara ngoyo.
***

Artikel sebelumnya telah dipublikasikan di Medium: Marfa U.
Show Comments/Tampilkan Komentar
Hide Comments/Sembunyikan Komentar

15 comments

  1. Gak ada manusia yang gak berbuat salah. Kesalahan adalah lumrah. Aku suka part yang mengajak untuk mengganti mental kerupuk jadi mental baja! Karna itulah bekal untuk hidup ke depannya. Hmmm, soal less-transactional bisa banget! Asal mindset dan komitmen kita harus dibentuk dari awal.

    ReplyDelete
  2. Sayapun sering merasa bersalah pada diri sendiri. Tapi perasaan ini kadang mengganggu.. Harus diminimalisir perasaan bersalah pada diri sendiri agar tidak baper. M

    ReplyDelete
  3. Hehe aku jadi mikir. Kadang usaha sedikit yang di dapat besar. Kadang yang usaha besar malah dapat nya dikit. Jadi memang ada faktor X

    ReplyDelete
  4. Jadi daripada disebut content creator, lebih tepat kalau disebut content composer yah hehe

    ReplyDelete
  5. Pemikiran ini kadang juga hinggap di kepalaku. Kadang suka membandingkan. Apa sih yang X lakukan sehingga dapat ini. Tapi balik lagi sih, benar gak semua yang kita tanam kita tuai. :" Duh benar2 mencerahkan.

    ReplyDelete
  6. Saya suka dengan "Apa yang lita Tabur, Belum tentu itu yang kita tui".
    Dan memang ya, Mbak Marfa, begitulah kehidupan. Mkta berbuat baik pada si A, bukan A yang balas, tapi kita alan menerima kebaikan dari B, C, D dan sebagainya.

    ReplyDelete
  7. Aku punya prinsip lakukan sebaik-baiknya, urusan hasil itu belakangan. Intinya poin dulu baru koin.
    Dan aku percaya, perbuatan baik akan kembali ke kita, entah dari siapa, entah kapan dan dimana

    ReplyDelete
  8. Begitulah manusia mb, kadang yg diharapkan tak sesuai dgn apa yang diupayakan. Inginya cepat bin praktis, dan itulah yg membuat mental kita gampang menyerah ketika mendapatkan ratusan atau ribuan tekanan bertubi-tubi. Sebenarnya kunci utamanya itu hanya satu kalo menurutku yaitu "Ikhtiar"

    ReplyDelete
  9. kalau ditanya,"pernah nggak ngerasa usaha banyak tapi hasilnya sama dengan yang usahanya sedikit atau biasa aja? Dari sini nantinya jadi malas buat usaha lagi" pernah donk malah sering banget. tapi bukan berarti kita harus berhenti berusaha bukan? Karena di dunia ini kalau enggak ada usaha ya enggak bisa apa-apa

    ReplyDelete
  10. Aku suka potongan kalimat kita tidak pernah menanamkan apa-apa, kita tidak pernah kehilangan apa-apa. Memang pola pikir sih yang harus lebih terbuka untuk menghadapi problematika yang dialami dalam bisnis. Bukan sekedar nominal ya kan tapi lebih kepada value yang diberikan dan didapatkan.

    ReplyDelete
  11. Kalau aku sih sebagai manusia hanya bisa memberikan ikhtiar terbaik.. masalah hasil bukanlah ranahku. Sedikit atau banyak itu relatif. Lebih ke bagaimana mensyukuri apa yang Ada di depan Mata. Terkadang hasil dari sebuah ikhtiar bisa jadi Tak menghasilkan nominal besar tapi ada banyak hal-hal besar lain yang didapat, misal teman-teman baru, pengalaman baru, dan hal-hal baru lainnya yang pastinya menambah khasanah wawasan hidup Kita.

    ReplyDelete
  12. mungkin kita perlu intropeksi diri dan jangan terlalu banyak overthingking di karenakan akan membuat kita menjadi tidak optimal. Jika ada tekanan kita harus optimis bisa melewatinya. apalagi jadi pengusaha harus punya modal berani

    ReplyDelete
  13. Kayaknya kita ini kadang terlalu berlebihan. Hal-hal yg gak penting terlalu lebay kita pikirkan. Padahal kita sendiri yg bikin hidup jadi bermasalah.
    Sebenarnya simpel aja klo menurutku. Lakukan apa yg bisa kita lakukan. Jadikan itu inspirasi bagi diri kita dlu. Syukur² bisa jadi inspirasi buat orang lain.
    Klo soal hasil atau balasan, lupakan. Percaya deh, semesta tak pernah salah dalam memberikan balasan :)

    ReplyDelete
  14. Saya tertohok di kalimat, "Perlu upgrade mental lembek ke mental baja biar baru dua tiga kali sudah menyerah". Iya ya, mungkin saya selama ini merasa sudah maksimal, mungkin belum. Pun urusan berbuat baik ya.

    ReplyDelete
  15. Intinya usaha aja terus ya Mbak, bukankah hasil tidak akan mengkhianati usaha gitu kan ya?
    Kalau kita udah berusaha maksimal tapi hasilnya belum seperti yg diharapkan. Mungkin akan didapatkan pada kesempatan berikutnya lagi kali ya. Terus saja mencoba mana yg terbaik.

    ReplyDelete

Hi! Lemme know you read this story by drop your perspective through a comment below :) (p.s: a comment with active url will be deleted)