Dear Sister (REVIEW)




Judul Buku : Dear Sister
Penulis : Rosemerry
Editor : Bernard Batubara
Penyelaras Aksara : Idha Umamah
Penata Letak : Erina Puspitasari
Penyelaras Tata Letak : Gita Ramayudha
Desainer dan Ilustrator Sampul : Agung Nugroho
Penerbit : Gagas Media
Genre : Fiksi, Novel
Jumlah Halaman : viii+272 hlm
ISBN : 979-780-797-5
Harga : Rp 52.000,00 (kalo saya sih gratis, persembahan penerbit, ada ttdnya mbak Rosemerry pula)
Sinopsis : 

Mengapa harapan selalu datang bersama rasa kecewa di hati?
Mengapa harus mengorbankan sesuatu yang berarti, demi cinta yang belum tentu sejati?

Aruna

Aku pernah melihat bagaimana harapan pupus di tanganku dan rasanya menyakitkan.
Kesalahan masa remaja yang tak kulupa.
Aku berjanji, orang yang paling kusayang, ia tak akan mengalami kehilangan dan sakit yang sama.

Nayla

Aku belum tahu banyak tentang cinta, tetapi aku tahu cinta tak selalu sejati.
Aku masih menerka-nerka ke mana arah langkah untuk cita-cita, tetapi suatu hari, aku pasti tahu arah yang kutuju.
Aku belum tahu banyak, tetapi bolehkah aku belajar untuk menjalaninya?
Aku mungkin belum mampu, tetapi bukankah kita tak tahu jika kita belum pernah mencoba?

Bersama Aruna dan Nayla , kau akan menemukan kisah cinta, keluarga, dan cita-cita yang sempat patah.
Juga tentang ketabahan untuk mempertahankan impian dan jati diri.

***

                Rabu lalu saya ke kantor pos mengambil paketan dari Yogyakarta, ternyata paketan buku, emang sih kantor pos disini nggak nganterin, biasanya disuruh dateng sendiri atau dititipin di balai desa. Seneng dong, dapet paketan dari Jogja, langsung dari penulisnya disertai tanda tangannya, penulisnya lulusan UGM pula. Nah, bahas ke bukunya, buku Dear Sister mengambil tema persaudaraan yang lagi jatuh cinta, jarang dong buku tentang romansa tapi ngambil persaudaraan, kakak adek dan perempuan semua, biasanya kan persahabatan. Tokoh Aruna dan Nayla terpaut empat taun, sama kaya saya dan adek, Aruna kuliah sementara Nayla baru masuk SMA. Meskipun saya jadi kakak, kalo baca novel ini sih lebih ngedukung Nayla, emang sih kalo orang pinter itu tingkahnya nggak jauh beda sama Aruna, katanya sih menyarankan, tapi lebih terkesan maksa. I feel u, Nay. Kalo saya bukan sama kakak, tapi sama orang tua, harus kaya anak ini anak itu, nah kan saya punya impian sendiri, didukung dong! Emang impianmu apa? Nggak tau.....

                Kalo dari segi percintaan buku ini biasa sih, kayak suka sama pacar sahabat sendiri, ketemu temennya pacar sahabatnya (duh ini kok ribet) dan cowok yang ditaksir Nayla malah suka Aruna. Kalo Yulian suka ke Aruna ini masih bisa ditebak, tapi yang bagus itu kedua tokoh ini malah nggak jadian sama cowok yang ditaksirnya. Kemungkinan sih Aruna bakal sama Wangga, Nayla sama Doni. Alur ke belakang-belakangnya terlalu cepat, saya rasa. Semudah itu penyelesaian konfliknya, kaya dapet masalah satu persatu, tapi kemudian bisa dilewatin secara mudah step by step, jadi ngerasa ada yang kurang juga. Bagian yang saya suka yaitu definisi Yulian tentang pecinta alam, pecinta alam itu bukan orang yang naik turun gunung aja, alam itu luas, bisa laut, hutan bahkan lingkungan sekitar. Orang nggak bisa disebut pendaki jika kamarnya aja masih berantakan. Bahkan tingkat teratas dari pecinta alam itu nggak perlu naik gunung hanya semata-mata buat pamer dan malah membuat alamnya rusak.

                Dari segi percetakan sih nggak ada kata typo, good job lah bang Bernard, tapi ada kata-kata yang kalo diomongkan langsung itu agak gimana gitu, misalnya “Kamu menjahati adikku ya?” dan beberapa juga terlalu formal. Tapi mbak Merry ini ketauan suka baca karena ada bagian-bagian seperti “untung-bukan-aku”. Selamat untuk buku pertamanya ya, mbak Mew, semoga bisa lanjut ke buku-buku lainnya.

                Overall buku ini cocok buat remaja, buat dibaca malem-malem kalo susah tidur, ini bukan buku kimia yang kudu mikir bacanya, atau mengisi waktu luang daripada nganggur, saya aja baca 78 halaman pertama di alun-alun, sambil nunggu adek, sendirian, jomblo pula.

2 comments

  1. Nunggu sendirian, jomblo pula, tinggal tunggu diculik kolongwewe aja lu, Mi.

    ReplyDelete
  2. Tirs : Dih, dia mah malah nemenin gue, Bang.

    ReplyDelete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home