Merayakan Perpisahan

Saya terbiasa membakar barang-barang
Yang tidak saya suka
Sepatu yang terlalu longgar
Padahal dapat dikecilkan
Baju dari teman pendusta
Padahal dapat disumbangkan
Kado buku-buku dan kain rajutan
Hal-hal yang demikian itu membuat hati lara
Dengan api membakarnya, mereka hilang
Membumbung ke angkasa, menghilang beban
Namun, untuk membakarmu itu sedikit susah
Bahkan membakar rasa, saya tak kuasa
Justru setiap ingatan, jiwa ini yang terbakar
Rasa-rasanya saya pernah dicintai begitu dalam
Sebelum kau pergi

42 comments

  1. bakar saja jiwamu sampai menjadi abu. Kalau perlu abu itu kau bakar lagi,sampai kau jengah dan menyadari bahwa itu sudah masalalu....
    #komenentahlah wkwkwk

    ReplyDelete
  2. aku termasuk penikmat puisi yang buruk, selalu tidak peka dengan bahasa yang digunakan. kiasan-kiasan yang digunakan terkadang membuat ku pusing tapi kucoba memahaminya dengan seksama hehehe

    ReplyDelete
  3. Sebelum kau pergi, aku harap bisa memadamkan api yang selalu membakar hati ini sehingga saat kau benar-benar pergi, tak ada bara lagi di dalam hati ini.

    ReplyDelete
  4. masih belum mengerti, kenapa setiap perpisahan selalu menimbulkan kesedihan.. aw :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maka dari itu, perlu dirayakan hihi

      Delete
  5. perpisahan memang tidaklah enak. Tetapi, perpisahan merupakan sebuah sikluas yang akan terus terulang. Tidak akan ada permualian tanpa adanya perpisahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa-rasanya memang begitu, tapi kadang butuh waktu yang sedikit lama lagi untuk memulai

      Delete
  6. aku adalah seorang yang kurang paham puisi, tapi kalau aku baca--baca kayaknya sedih deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mahaha iya teh maksudnya ini sedih

      Delete
  7. Aku kalau bakar kenangan lihat2 dulu sih. Kalau bneran mau lupa ya bakar aja, biar hilang. Tp bukan bakar orangnya

    ReplyDelete
  8. kalau aku jarang membakar kenangan malah aku simpan atau aku sumbangkan. soalnya aku enggak tahan dengan asap, bikin sesak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin polusi, duh menyusahkan memang

      Delete
  9. Sinihhhh buat aku barang barang yg mau dibakarnya!!!

    Suka lihat kamu masih konsisten nulis puisi, Mbak. Bagus juga. Kirim kirim ke media cetak donk. Eh, basabasidotco juga nerima ouisi deh.

    Btw, aku pernah bikin tulisan dengan judul merayakan kehilangan. Silakan dibaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih gamuat bang Dhik, boleh juga ya tuh. Siap meluncur.

      Delete
  10. Aku terbakar dengan hebat mbak saat perpisahan...entah berapa derajat fahrenheit kala itu, seolah setiap sel melepaskan ATPnya dari mitokondria yang memnghasilkan panas sedemikian hebat...hingga semua jaringan tubuh menjadi abu yang ditiup angin

    #mbuhlahKomeneApa bingung mau nulis apa :V

    ReplyDelete
  11. Huh, ngomongin perpisahan pasti selalu inget masa lalu. Apalagi baca puisi kayak gini. Jadi bawa perasaan bacanya, hehe. Keren, dan GAUL! bisa bawa pembacanya menikmati puisinya.

    Bakar aja deh semuanya, bakar!! :D

    SALAM UPIL GAUL! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bakar daging enaa bikin sate hmm

      Delete
  12. Aku dulu suka nulis puisi..tentang yg aku rasa... Tapi sekrang ide kurang muncul..malah cari buat nulis artikel..


    Tapi kalo gak senang am baju mending dikasih ke orang ..dr pada dibakar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa-rasanya males liat bajunya kayanya itu mba hihi

      Delete
  13. Jika itu terjadi padaku, ku takkan pernah membakarnya.
    Karena dia jua lah, ku dapat sampai ke titik ini.

    Terima kasih, wahai masa lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, namun caranya itu yanh bungkam

      Delete
  14. Puisi yang bagus. Padat tapi efektif. Lanjutkan mba puisi-puisinya

    ReplyDelete
  15. Ketika ada kata perpisahan, aku selalu berusaha memadamkannya dengan caraku. Mungkin sulit tapi harus berusaha dan harus move on

    ReplyDelete
  16. Bingung kalau komentar puisi. Hahaha. Kata-kata di awal kurang compact mbak. Ibarat kata kurang efisien terlalu panjang juga intronya di potong beberapa bait di bikin compact saya yakin jadi bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haturnuhuh pisan teh Dew, lain kali akan saya coba :D

      Delete
  17. lima baris terakhir sungguh membuat saya baper, apalagi dua baris terakhir, sungguh-sungguh baper -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan kak ini kan fiksi hihi

      Delete
  18. pas baca bagian awalnya aku kok malah kepikiran aduh mubadzir banget di bakar-bakarin.. dan oh ternyata baru ngerti maksudnya pas selesai baca semua hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dasar ya ngga tau bikin polusi ih

      Delete
    2. Iya dasar ya ngga tau bikin polusi ih

      Delete
  19. Bakar saja kenangan itu dengan api cemburu
    Siram dengan amarah
    Biar meledak menghanguskan rasa
    Cinta yang bersemi biarkan jadi arang
    Hitam..kelam.menyisakan abu tak berbentuk
    Kubur di dasar hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak mau dikubur, maunya melebur saja agar tak kembali muncul hihi

      Delete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home