Pada Hari Aku Akan Bercerita

Kepada cinta pertamaku
Kukirimkan syair-syair ini padamu
Setelah sebelumnya kusesap satu cangkir kopi hitam pekat itu
Teringat dan menerawang pada masa lalu
Saat-saat aku mati-matian membunuh rasa padamu
Bertahun-tahun kukirimkan lantunan bait
Yang tak pernah terkirim dan bersua padamu
Pada rasa-rasa yang tak lagi kau rasa
Ada waktu-waktu ketika aku ingin berbicara
Menatap wajah milik wanitamu
Jangan kau kira aku takut, aku sangat berani menghubungimu
Namun aku lebih memilih jalan Tuhan
Jalan yang mempertemukan kita
Dan pada hari itu aku akan bercerita
Pada suatu sore yang hangat lalu aku akan memesan secangkir teh
Tentang tahun-tahun di mana aku berjuang sendirian
Tahun pertama, aku berharap
Tahun kedua, aku menangis
Tahun ketiga, aku letih
Tahun keempat,
Tenang, aku sudah tak lagi merasa sepi
Kemudian aku akan bertanya
Pernahkah ada cinta dalam satu harimu terdahulu?
Sayangnya, itu entah kapan
5/2/17

10 comments

  1. baca beginian, jadi kangen nulis beginian juga. lah beginian yang gimana nih maksudnya? :))

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Teruntuk gadisku di masa lalu
    Entah kenapa rasaku mengata kauhanya salah mengira
    Sebab cintaku tak pernah menyebab lara
    Hatiku masih sama
    Masih memuja
    Meski terkadang terlihat berbeda
    Namun bukankah cinta juga meluka?
    Membuat dilema dan berujung nestapa?

    Ketahuilah
    Daku masih sama;
    Memujamu selagi melara
    Merindumu selayaknya bara

    Percayalah
    Hati tak pernah mendusta

    13/04/2017;
    Didi Syaputra
    Tembilahan, Riau
    -
    Puisi yang menggugah, artistik dan penuh penjiwaan. Sangat suka dengan diksinya yang sederhana, tapi mengena.

    Jujur saja, cukup tersentil dengan ungkapan rasa kak Umi Marfa ini. Terlepas nyata atau sekedar pelepas rasa, gak dipungkiri aku cukup tersentuh untuk kembali menata ulang hati. Puisi ini seolah mewakili rasa 'gadisku' di masa lalu, seseorang yang pernah meluangkan masanya mengisi kesendirianku, yang justru pada akhirnya terhianati ketulusannya. So, like it. Im so sorry if my poem can't describes the overall content of my heart. Dan puisi ini juga aku tujukan untuk menanggapi curahan-curahan hati para perempuan di mana saja berada, terutama kak Ummi Marfa ;D.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, terima kasih apresiasinya yaa :D

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Kepada cinta pertamaku
    Kukirimkan syair-syair ini padamu
    Setelah sebelumnya kusesap satu cangkir kopi hitam pekat itu
    Teringat dan menerawang pada masa lalu
    Saat-saat aku mati-matian membunuh rasa padamu
    Bertahun-tahun kukirimkan lantunan baitYang tak pernah terkirim dan bersua padamu..
    .

    .

    👇👇
    Aku rasanya ikutan hanyut terbawa arus baca puisi diatas. apalagi puisinya tuh kayak aku banget gitu. Punya perasaan kepada seseorang, tetapi hanya mampu dan berani menyimpannua di dalam hati. Nggak berani bertindak lebih. cukup hanya dengan isyarat doa-doa sepertiga malam kepada-Nya, supaya aku di beri kesempatan untuk mengenalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menunggu, menunggu, dan jawabannya entah kapan :D

      Delete

Hi, I'm Marfa. Thank you for visiting and reading, just give your comment and tell me if there are some typos^^

Home